Rabu, 25 Juni 2014

Humor Islami Ala Santri [4] : Menipu Syetan*


Gambar
Pernah suatu ketika Kiai Bisri Musthofa berbincang-bincang dengan sahabatnya, Kiyai Ali Ma’shum Krapyak tentang tulis menulis.
“Kalau soal kealiman, barangkali saya tidak kalah dari sampean. Bahkan mungkin saya lebih alim.” kata Kiai Ali ketika itu dengan nada kelakar seperti biasanya. “tapi mengapa sampean bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan. Baru separo atau sepertiga sudah macet tidak bisa melanjutkan.”
Dengan gaya khasnya, Kiai Bisri menjawab, “Lha soalnya sampean menulis lillahi ta’ala sih!”
Tentu saja jawaban ini mengejutkan Kiai Ali, “Lho, Kiai menulis kok tidak lillahi ta’ala, lalu dengan niat apa?”
“Kalau saya menulis dengan NIAT NYAMBUT GAWE CARI DUIT. Etos saya dalam menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu. Kalaupun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus bekerja. Soalnya, bila dia berhenti menjahit, periuknya bisa ngguling. Saya juga begitu. Kalau belum-belum sampean sudah niat yang mulia-mulia, setan akan mengganggu sampean. Dan pekerjaan sampean tidak akan selesai. Lha nanti kalau tulisan sudah jadi dan akan disetorkan kepada penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia. Li nasyril ‘ilmi atau apa. Setan perlu kita tipu.”
Kiyai Ali Ma’sum, “????.”
Dikutip dari biografi KH. Bisri Musthofa
–0o0o0–

Senyum sejenak tuk melepas kepenatan hidup. Sobat HIAS, seseorang jika ingin menaklukkan musuhnya, tentu ia dituntut harus tahu strategi penyerangan musuh. Begitupun kita, kita harus tahu strategi penyerangan musuh bebuyutan kita, siapa mereka? Yaitu syetan!
Dalam QS. Al-Arof ayat 17 dijelaskan bahwa setan akan datang menyerang dari 4 arah : depan, belakang, kiri dan kanan. Ulama menafsirkan keempat arah tersebut adalah : arah depan (manusia akan diragukan akan masa depan/ Akhirat), belakang (manusia disibukkan perkara dunia), kanan (manusia menyukai jabatan), kiri (syahwat berlebihan).
Nah, kita harus bisa menahan strategi- strategi syetan tersebut, agar mampu mengalahkan mereka. Semoga Alloh Swt memberikan kita kekuatan untuk bisa mengalahkan syetan dan meredam serangan hawa nafsu. Aamiin..
Wallaahu a’lam bishowab.
Baca juga di asalnya, page Humor Islami Ala Santri – HIAS
salaam santun ^^

Humor Islami ALa Santri [3] : Permintaan Semprul


Gambar
Cerita ini Kang HIAS sadur dari cerita umum yang sering kita dapat dari berbagai forum humor. Akan tetapi selama ini kita hanya menganggapnya cerita lucu yang hanya sebagai bahan untuk bisa tertawa saja tanpa mau mengambil hikmah di dalamnya. Baiklah langsung saja kita simak ceritanya versi HIAS.

Pagi itu Kang Salim, Sodron dan Semprul pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Yah, persediaan kayu bakar di pesantren sudah habis. Dan hari itu jadwal mereka yang bertugas.

Ketika sampai di tengah perjalanan, Sodron menemukan sebuah kendi (tempat air minum dari tanah liat). Wah, kebetulan pas haus, eh nemu kendi. Sodron mengocak kendi tersebut ingin tahu apakah masih ada airnya. Saat sedang mengocakkan kendi tiba tiba, . . .
“Puuuffz….”
Kendi itu mengeluarkan asap dan muncullah sesosok Jin.
“Hahahahaha… Akulah Jin bukan Jun. Aku terperangkap di dalam kendi itu sejak jaman Presiden Soekarno sampai sekarang Pak SBY. Hahahaha… Karena kalian sudah membebaskan saya maka saya akan mengabulkan 3 permintaan dan karena kalian bertiga maka tiap orang hanya boleh mengajukan 1 permintaan.”
Kang Salim yang dari tadi bengong langsung menyahut. “Saya sudah hampir 10 tahun di pesantren, belum pernah pulang. Saya mau pulang ke rumah orang tua saya.”
“Puuuuffzz…” tiba-tiba Kang Salim menghilang.
Sodron tak mau kalah, “Saya juga rindu kepada orang tua saya, saya juga ingin pulang.”
“Puuufffzz….” Sodron pun menghilang, bertemu kedua ortunya dikampung.
Semprul bingung, ia hanya menunduk lesu.
“Hai anak muda, tinggal kamu yang belum mengajukan permintaan. Ayo, tidak usah ragu. Apa permintaanmu?” Sang Jin bertanya.
Dengan masih menundukkan kepala, Semprul berkata lirih.
“Aku yatim piatu, aku tidak punya siapa-siapa. Aku hanya punya 2 teman baik yaitu Kang Salim dan Kang Sodron. Tanpa mereka hampa hidupku terasa.”
Semprul menghela nafas panjang, dengan ragu ia melanjutkan kata-katanya, “Wahai, Jin. Aku punya satu permintaan. Bisakah kamu mengembalikan kedua temanku tadi kemari?”
“Oh, itu soal mudah.”
“Puuuffzz…” Kang Salim dan Sodron berada di tempat semula.
–0o0o0–
Wahai Sobat HIAS, kita akan merasakan betapa berartinya seorang sahabat, teman, dan siapapun mereka. Manakala mereka jauh dari kita. Walaupun terkadang sering kali kita bertengkar manakala disaat kita bersama.
Ngomongin soal SAHABAT, ini nih Kang HIAS mau berbagi 12 Ciri Sahabat Sejati Menurut Imam al-Ghazali :
Mari kita simak 12 Ciri Sahabat Sejati Menurut Imam al-Ghazali di bawah ini :
  1. Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu.
  2. Jika engkau merapatkan ikatan persahabatan dengannya, maka ia akan membalas balik persahabatanmu itu.
  3. Jika engkau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya.
  4. Jika kau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik.
  5. Jika ia memproleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu.
  6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya.
  7. Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.
  8. Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi.
  9. Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu.
  10. Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu.
  11. Jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencana itu.
  12. Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.
–0o0o0–
  • Ingatlah kapan terakhir kali Anda berada dalam kesulitan?
  • Siapakah yang berada di samping Anda?
  • Siapakah yang mengasihi Anda ketika Anda merasa tidak dicintai?
  • Siapakah yang tetap bersama Anda, bahkan ketika Anda tak bisa memberikan apa-apa?
Itulah SAHABAT Anda. Apakah kita telah memiliki sahabat sejati seperti itu? Bukankah lebih baik jika kita introspeksi diri dulu, apakah diri kita sudah layak disebut sebagai sahabat sejati?
Dalam masa kesenangan, teman-teman mengenal kita.
Dalam masa kesusahan, kita mengenal siapa sahabat kita.
Wallaahu a’lam. Semoga bermanfaat.
===
Baca juga di asalnya, page Humor Islami Ala Santri – HIAS
salaam santun ^^
salaam santun ^^

Humor Islami Ala Santri [2] : Anak Hak Asuh Siapa?


Gambar
Sudah hampir seminggu ini tetangga sebelah terdengar ribut – ribut. Suara bentakan, teriakan dan glodakan sampai terdengar ke Pesantren. Hal ini tentu membuat Bu Nyai jadi risih dan merasa terganggu ketika mengajar Santriah-Santriahnya. Beliau akhirnya menyuruh sang suami untuk menengahi mereka. Dengan berat hati karena khawatir dikira mencampuri urusan rumah tangga orang lain, Mbah Yai terpaksa pergi berkunjung ke rumah tetangganya.
Setelah dipersilahkan masuk, Mbah Yai meminta maaf terlebih dulu dan mencoba memberanikan diri untuk bertanya duduk permasalahannya.
Sang Istri pun memulai, dengan sesenggukan ia (Istri) mencoba menerangkan masalah apa yang sedang rumah tangganya hadapi.
“Sebelumnya saya juga mau meminta maaf, Yai. Apabila keributan rumah tangga kami sampai mengganggu kegiatan ngaji santri-santri Njenengan (Anda).” Sang Istri diam sejenak, tampak dimatanya berkaca kaca menahan isak tangis. Sambil menghela nafas panjang, ia melanjutkan kata-katanya, “Saya dengan Suami saya sudah tidak ada lagi kecocokan dalam mengarungi bahtera rumah tangga, kami sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. Saya fikir perceraian adalah cara terbaik yang harus saya tempuh.”
Sang Istri kembali terdiam, air matanya tak dapat terbendung lagi dan mulai membanjiri pipinya yang merah menahan malu bercampur amarah. Ia mencoba mengumpulkan sekuat tenaga untuk melanjutkan kata-katanya.
“Akan tetapi, hikz.. hikz… Sa..sa..sa..Saya tidak mau berpisah dengan anak saya, Yai. Sayalah yang mengandung 9 bulan 10 hari, melahirkan bayi itu ke dunia dengan kesakitan dan kesabaran saya, bahkan bertaruh nyawa. Anak itu harus menjadi hak asuh saya, Yai. Tapi Suami saya tidak terima dan selalu marah-marah.”
Mbah Yai hanya bisa terdiam. Sejenak beliau pandangi seorang anak laki-laki berusia 2 tahun itu yang duduk dipangkuan ibunya. Mbah Yai mengalihkan pandangan ke arah sang Suami berharap meminta kejelasan.
“Maaf, Pak. Seharusnya anak ini adalah hak asuh ibunya. Akan tetapi jika saya boleh tahu, apa pembelaan Anda terhadap tuntutan istri Anda? Sehingga Anda tidak terima dan marah-marah?”
Si Suami diam sebentar, dengan nada datar ia berkata.
“Sebelumnya maaf, Yai. Sayalah yang paling berhak mendapatkan anak itu. Sekarang analoginya begini. Jika Mbah Yai sendiri memasukkan KARTU ATM ke dalam MESIN ATM maka beberapa detik kemudian MESIN ATM itu akan mengeluarkan bunyi oh no oh yes, eh maaf maksud saya suara seperti mesin yang sedang menghitung uang. Dan dalam sekejap akan keluar UANG. Menurut Njenengan, uang itu milik Njenengan (Anda) atau milik mesin ATMnya?”
Mbah Yai, “…??????”
–0o0o0–
Sobat HIAS, “hadhanah” bermakna pemeliharaan anak lelaki atau perempuan yang masih kecil yang belum boleh berdikari, menjaga kepentingan anak, melindunginya dari segala yang membahayakan dirinya, mendidik rohani dan jasmani serta akalnya supaya si anak dapat berkembang dan dapat mengatasi persoalan hidup yang akan dihadapinya.
Dalam Islam, hukum memelihara anak adalah satu kewajiban ibu bapak karena si anak memerlukan asuhan dan kasih sayang ketika dalam proses pertumbuhan hidupnya.
Persoalan yang timbul ialah : siapa yang berhak memelihara dan menjaga anak jika ibu bapaknya bercerai?
Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar,
“Bahawasanya seseorang perempuan telah datang menemui Rasulullah saw dan bertanya : “Ya Rasulullah, bahwa anakku ini, perutkulah kandungannya, susukulah minumannya dan ribaanku rumahnya tetapi bapaknya telah menceraikan aku dan hendak merampas anak itu daripada aku”. Selepas mendengar aduan itu Rasulullah saw bersabda, “Engkaulah yang lebih berhak menjaga anak itu selagi engkau belum berkahwin lagi dengan lelaki lain.” (Riwayat Abu Daud)
Hadits ini menetapkan bahwa ibu adalah lebih berhak terhadap pemeliharaan anak daripada ayah. Berdasarkan kepada kiasan hadits tersebut ternyata orang perempuan lebih diutamakan tentang hak pemeliharaan anak, kemudian barulah diikuti oleh orang lelaki.
Islam mengutamakan perempuan dalam hal hadhanah ini karena ibu lebih sayang kepada anaknya, lebih tahu bagaimana mendidiknya dan lebih sabar dalam mengasuh anaknya daripada ayah. Demikian juga mempunyai masa yang luas berdampingan dan bermanja dengan anak-anak berbanding dengan bapak yang selalu sibuk dengan tugas di luar.
Namun bagi anak-nak yang mumayyiz (Fuqaha berselisih pendapat mengenai had umur mumaiyyiz ini. Walau bagaimanapun menurut kebiasaan, bagi lelaki yang telah mencapai umur 7 tahun dianggap mumaiyyiz manakala perempuan pula apabila berumur 9 tahun) mereka diberi pilihan sendiri untuk menentukan siapa penjaganya sama dengan ibu atau bapak. Jika anak itu berdiam diri, maka menurut kitab Fathul-Muin dalam fasal hadhanah menyatakan anak itu lebih utama diserahkan kepada ibunya.
Hak hadhanah akan terlepas sekiranya si isteri itu mempunyai salah satu syarat seperti berikut :
“Dan syarat-syarat hadhanah itu tujuh perkara yaitu berakal, merdeka, beragama, lemah lembut, amanah, tidak bersuami dan bermukim. Sekiranya kurang salah satu syarat itu maka gugurlah hak hadhanah itu”.
Apabila pemeliharaan anak itu dimulai dari ibu maka para Fuqaha mengambil kesimpulan bahwa kerabat dari ibu lebih berhak mengasuh daripada kerabat bapak. Jika ibu hilang kelayakan hak jagaan anak maka anak itu diserahkan kepada nenek dari garis ibu hingga ke atas.
Wallaahu a’lam bisshowab. Semoga bermanfaat.
===
Jangan lupa di share! :)
Baca juga di asalnya, page Humor Islami Ala Santri – HIAS
Salaam santun ^^

Sabtu, 21 Juni 2014

Humor Islami ALa Santri [1] : Jangan Diambil, Sandal Pak Kyai!

 Waktu itu, Jumat pagi di Kopontren,

“Assalaamu’alaykum!” Sodron menyapa Ukhti Miya (sumiyatun) yang kebetulan jaga Kopontren.

“Wa’alaykum salaaaam! Ada apa, Kang Sodroooon? Maaf tidak terima kasbon. Kalau mau beli barang. Lunasi dulu hutangnya kemarin!” jawab Miya dengan lantang.

“Masya Allah, Mbakyu. Biasa aja kalee.. Ini saya juga mau bayar hutang, sekalian mau beli sandal jepit.” Sodron menjelaskan. Kebetulan sepulang dari yasinan semalam, sandalnya hilang ga kembali.

“Eit… Mana uangnya?! Ada uang ada barang!” Miya terkenal sebagai santriwati yang paling tegas dan agak galak. Makanya kalau pas dia yang jaga kopontren. Ga ada santriwan-santriwan yang berani kasbon/hutang.

“Ini Mbakyu, naah…” Sodron menyerahkan uang 10.000. “Kemarin hutang sabun 2.500, sekarang beli sandal 7.000, sisa 500 buat sampean aja. Saya ikhlas…”

“Hayah.. Cuma 500 aja kok ya lebay banget sih.”

“Lho… Terima kasih enggak, Alhamdulillah juga enggak, eh malah ngatain lebay. Meski cuma 500 perak itu berharga banget. Uang 10.000 kurang 500 aja ga jadi 10.000, lagian jangan lihat besarnya tapi keikhlasannya.” Kang Sodron berkhutbah. Padahal Jum’atannya masih ntar siang. xixixi

“Iya deh, alhamdulillah… Makasih ya Kangmas Sodron yang ganteng, baik hati, ga congkak, ga sombong, calcul tur nyah nyoh.. Ini saya masukkan ke kotak amal saja. Eh, ngomong-ngomong, tumben kok dah punya uang? Kiriman dah dateng ya?”

“Kiriman belum datang, tapi alhamdulillah kemarin dapat job di pasar, meski cuma kuli panggul yang penting halal. Dah ya Mbakyu, saya pamit.” Sodron melangkah pergi dengan sandal barunya.


Adzan Jum’ah berkumandang, Sodron bergegas ke Masjid. Ketika melepas sandal dan hendak masuk masjid, “Wah, sandal baru nih. Kalau tak tinggal begitu saja ntar pasti hilang. Gimana ya caranya biar aman?” Sodron mencari akal, hingga akhirnya ia pun meletakkan secarik kertas di atas sandal barunya dengan bertuliskan maklumat yang bunyinya, “JANGAN DIAMBIL, SANDAL KIYAI…!”
“Nah, kalau gini pasti aman.” Sodron senyum-senyum sendiri. Tanpa disadari dari kullah ikhwan (tempat wudhu laki-laki) tampak sepasang bola mata yang memperhatikannya sedari tadi.


Selesai sholat, santri Sodron bergegas menuju dimana ia meletakkan sandalnya. Betapa kagetnya dia ketika sepasang sandal barunya telah raib, tinggal secarik kertas maklumatnya saja. Diraihnya kertas itu sambil ngedumel sendiri, “Sontoloyo, kurangajar. Orang ga tau diri. Sudah jelas – jelas ada tulisannya JANGAN DIAMBIL, SANDALNYA KIYAI kok berani beraninya diambil.”
Ketika hendak membuang kertas maklumatnya, Sodron penasaran. Ternyata dibalik kertas itu terdapat tulisan. Betapa tambah terkejutnya ia ketika membaca tulisan itu yang berbunyi,  “TIDAK USAH DICARI, SANDALNYA SAYA PAKAI, TTD BU NYAI”

*gubrak,.. sodron nelen tu kertas.
–mohon maaf ceritanya terlalu bertele-tele, biar awet bacanya.

–0o0o0–

Sobat HIAS…
SANDAL itu untuk dipakai di KAKI Bukan di HATI.
Kalau sandal dipakai di hati, nanti…
Jika ada orang lain pakai sandal yang lebih bagus akan iri hati.
Ada orang lain pakai sandal lebih jelek, tinggi hati.
Ada orang lain ga pakai sandal, cuek diri.
Sandalnya hilang akan sakit hati.
Kasihaaan deh kamu santri…
Makanya pakailah sandal sesuai tempatnya.
Sandal itu dipakai di kaki.
Jadi jika ada orang lain pakai sandal yang lebih bagus tak kan iri.
Ada orang lain pakai sandal lebih jelek maka disyukuri.
Ada orang lain ga pakai sandal malu sendiri.
Sandalnya hilang ucapkan innalillaahi.
Gak perlu sampai menyalah gunakan nama Kiyai.
Buat menjaga sandalmu santri.
Maksud hati biar aman dari pencuri.
Eh ga taunya malah dipakai Bu Nyai.
hi..hi..hi…

Wallaahu a’lam.
Mohon maaf tidak begitu lucu karena terburu-buru, terceploskan begitu saja. ^ _ ^
Jangan lupa di share & baca juga di asalnya, page Humor Islami Ala Santri – HIAS
salaam santun ^^

[Bukan] Ahad Terakhir

Jadi, ceritanya ahad kemarin [15/6/'14] sepulang dari rapat Pramuda18 FLP Jakarta, saya dan teman-teman seangkatan dan juga beberapa senior yang kece-kece, sholat bersama di masjid Baitul Ihsan yang berlokasi tak jauh dari Museum BI, Kota Tua, Jakarta Barat. Seusai shalat, kami semua duduk-duduk berdiskusi dan juga menikmati mangga yang sengaja kubawa dari rumah sebagai teman duduk alias cemilan segar.
Gambar
Sore itu, diskusi yang membahas tentang hal2 ringan seputar aktifitas masing-masing, berbagi pengalaman, sampai pembahasan tentang Syi’ah, akhirnya kami akhiri ketika adzan ashar berkumandang.
ikhwan
Satu per satu, kami bergegas mengambil air wudhu, meninggalkan beberapa orang yang memanfa’atkan waktu untuk bernarsisi dengan berfoto-foto.

Gambar[Anggy, Jana, Noe, Siti]

Gambar[Anggy, WInda, Noe, dan Siti]

Setelah sholat kami berkumpul kembali, tapi tidak untuk melanjutkan diskusi karena hari yang sudah sore, beberapa rekan pamit untuk pulang duluan.
Gambar

Dan saya bersama beberapa teman memutuskan untuk makan dan jalan-jalan di sekitar Museum Fatahillah dengan beberapa senior angkatan sebelumnya. Bercanda-canda dan berbagi tawa, serta kembali berfoto-foto gak jelas, hehe :D
Gambar[Winda & Jana]
Gambar[Noe, Kak Ikal, & Mbak Winda]

Gambar{Kak Agus & kak Ikal]
Tepat jam 17.00 kami tersadar kalau hari semakin sore dengan langit yang mendung. Akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang. Berpisah dengan masing-masing tujuan dan kendaraan, ada yang naik kereta, busway, motor, dan kopaja. Tapi walaupun begitu, kami tetap satu, FLPer’s. FLP Jakarta.
Baiklah, akupun meniti jalan dengan tujuan pulangku ke ujung selatan Jakarta untuk mengunjungi kakak tunggalku. Satu yang kusimpan sebagai kenangan, aku pernah berada diantara mereka yang hebat, mereka yang berbagi dukungan dan menularkan semangat jadi pejuang pena satu sama lain. Yang walaupun berbeda latar belakang dan suku, kami bersama dalam kebersamaan dengan nuansa kekeluargaan.
Memang, sih, hari ahad lalu adalah ahad terakhir jadwal Pramuda18 untuk berkumpul [sebelum ramadhan dan inagurasi]. Ada rasa takut tak bisa berkumpul kembali. Merasa bahwa kemarin adalah hari perpisahan. Tapi perasaanku itu kutepis dengan anggapan, bahwa ; “Yang kemarin itu bukan perpisahan, melainkan jeda waktu untuk mempersiapkan diri sampai datang waktu ditentukan untuk berkumpul kembali, bersama menikmati kebersamaan.”
Sangat bersyukur bisa mengenal dan menyatu dengan mereka semua :)

AlhamduliLlaah ^^